Event

Skrining Kanker Paru: Siapa yang Perlu Low-Dose CT Scan? (LDCT)

ditinjau oleh dr. Devi Elora - KALGen Academia Team
30 March 2026
Bagikan
Share to Facebook Share to Twitter Share to Whatsapp

Skrining kanker paru sering kali belum menjadi prioritas, padahal penyakit ini kerap terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut. Salah satu metode yang direkomendasikan untuk deteksi dini adalah low-dose CT scan (LDCT), yang mampu menemukan kelainan paru bahkan sebelum gejala muncul. Dengan teknologi ini, peluang untuk mendeteksi kanker pada tahap awal menjadi lebih besar, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih optimal.

Meski demikian, pemeriksaan LDCT tidak ditujukan untuk semua orang. Skrining ini umumnya direkomendasikan bagi individu dengan risiko tertentu, seperti riwayat merokok atau paparan faktor risiko lainnya. Lalu, siapa saja yang termasuk dalam kelompok yang dianjurkan untuk menjalani skrining kanker paru?

Siapa yang Perlu Melakukan Skrining LDCT?

Skrining low-dose CT scan (LDCT) direkomendasikan bagi individu dengan risiko tinggi kanker paru. Hal ini didukung oleh berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa LDCT mampu mendeteksi kanker paru pada stadium lebih awal dibandingkan metode lain, sehingga meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan. Oleh karena itu, skrining LDCT tidak ditujukan untuk semua orang, melainkan difokuskan pada kelompok dengan faktor risiko tertentu.

Secara umum, skrining LDCT dianjurkan bagi:

  • Orang dewasa usia 50–80 tahun yang merupakan perokok aktif atau mantan perokok yang berhenti dalam 15 tahun terakhir

  • Individu dengan riwayat merokok berat (≥20 pack-year), yaitu setara dengan satu bungkus per hari selama 20 tahun, atau dua bungkus per hari selama 10 tahun

  • Mantan perokok berat yang masih berada dalam periode risiko, meskipun sudah berhenti merokok

  • Individu yang secara umum dalam kondisi kesehatan baik, sehingga tetap dapat menjalani pemeriksaan lanjutan atau pengobatan jika ditemukan kelainan

Selain itu, skrining juga dapat dipertimbangkan pada individu dengan faktor risiko tambahan, seperti paparan zat berbahaya (misalnya asbes), riwayat keluarga dengan kanker paru, atau kondisi paru kronis seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). 

Sebaliknya, skrining LDCT umumnya tidak direkomendasikan bagi individu dengan risiko rendah, seperti perokok ringan, mereka yang telah berhenti merokok lebih dari 15 tahun, atau individu dengan kondisi kesehatan serius yang dapat membatasi manfaat skrining. 

Dengan demikian, pemilihan kandidat skrining LDCT harus dilakukan secara selektif berdasarkan usia, riwayat merokok, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan. Konsultasi dengan tenaga medis menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa manfaat skrining lebih besar dibandingkan risiko yang mungkin timbul.

Manfaat dan Risiko Skrining LDCT

Skrining menggunakan low-dose CT scan (LDCT) merupakan metode non-invasif yang memungkinkan deteksi dini kanker paru, bahkan sebelum gejala muncul. Dengan paparan radiasi yang lebih rendah dibandingkan CT scan konvensional, pemeriksaan ini dapat dilakukan secara berkala sebagai bagian dari program skrining. Studi menunjukkan bahwa LDCT mampu meningkatkan deteksi kanker pada stadium awal, terutama stadium I, sehingga peluang keberhasilan pengobatan dan kelangsungan hidup menjadi lebih tinggi. Selain itu, skrining LDCT juga memberikan peluang untuk intervensi gaya hidup, seperti penghentian merokok, karena individu yang mengikuti program skrining cenderung lebih terdorong untuk berhenti setelah memahami risiko kesehatannya.

Namun, di balik manfaatnya, LDCT juga memiliki sejumlah risiko yang perlu dipertimbangkan. Paparan radiasi, meskipun dalam dosis rendah, tetap memiliki potensi risiko jika dilakukan secara berulang. Selain itu, hasil positif palsu dapat terjadi, yaitu ketika pemeriksaan menunjukkan adanya kelainan yang ternyata bukan kanker, sehingga memicu pemeriksaan lanjutan yang tidak selalu diperlukan. Oleh karena itu, manfaat skrining LDCT umumnya lebih besar pada individu dengan risiko tinggi kanker paru. Keputusan untuk menjalani pemeriksaan sebaiknya dilakukan melalui konsultasi dengan tenaga medis, sehingga manfaat yang diperoleh dapat lebih optimal dibandingkan risikonya.

LDCT Berperan dalam Meningkatkan Harapan Hidup Penderita Kanker Paru

Low-dose CT scan (LDCT) mampu menurunkan risiko kematian akibat kanker paru melalui deteksi dini. Berbagai uji klinis besar menunjukkan bahwa skrining LDCT dapat mengurangi angka kematian akibat kanker paru secara signifikan. Studi National Lung Screening Trial (NLST) menemukan penurunan kematian sekitar 20%, sementara uji coba NELSON menunjukkan penurunan hingga 24–33% pada populasi berisiko tinggi (vats.amegroups.org). Temuan ini memberikan bukti kuat bahwa deteksi kanker pada tahap awal berperan besar dalam meningkatkan peluang hidup pasien.

Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kanker paru yang ditemukan melalui skrining LDCT berada pada stadium I–II, yaitu tahap di mana pengobatan masih lebih efektif dan berpotensi kuratif. Sebaliknya, tanpa skrining, banyak kasus baru terdiagnosis pada stadium lanjut, ketika pilihan terapi lebih terbatas dan tingkat kelangsungan hidup menurun drastis.

Dengan demikian, deteksi dini melalui LDCT menjadi salah satu strategi paling efektif dalam upaya meningkatkan harapan hidup pasien kanker paru, terutama jika dilakukan secara terarah pada populasi yang tepat.

Mengapa Skrining LDCT Berbeda dengan Pemeriksaan Biasa

Skrining dengan low-dose CT scan (LDCT) memiliki perbedaan mendasar dibandingkan pemeriksaan paru konvensional, seperti rontgen dada. LDCT menggunakan teknologi pencitraan dengan resolusi tinggi yang mampu mendeteksi nodul atau kelainan kecil di paru-paru, bahkan sebelum ada gejala. Selain itu, dosis radiasi yang digunakan juga lebih rendah dibandingkan CT scan standar, sehingga lebih aman untuk dilakukan secara berkala.

Berbeda dengan pemeriksaan biasa yang umumnya dilakukan setelah muncul keluhan, skrining LDCT bersifat proaktif. Pemeriksaan ini ditujukan bagi individu yang belum memiliki gejala, tetapi memiliki risiko tinggi, seperti perokok aktif atau mantan perokok. Dengan pendekatan ini, kanker paru dapat terdeteksi pada tahap awal, ketika peluang keberhasilan pengobatan masih jauh lebih tinggi dibandingkan jika ditemukan pada stadium lanjut.

Kesimpulan

Skrining kanker paru dengan low-dose CT scan (LDCT) merupakan langkah penting dalam upaya deteksi dini, terutama bagi individu dengan risiko tinggi seperti perokok aktif maupun mantan perokok. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa LDCT mampu mendeteksi kanker pada stadium awal, sehingga meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan dan menurunkan angka kematian. Namun, skrining ini tidak ditujukan untuk semua orang, melainkan perlu dilakukan secara selektif berdasarkan usia, riwayat merokok, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Meskipun memiliki manfaat yang signifikan, LDCT tetap memiliki risiko seperti paparan radiasi, hasil positif palsu, dan overdiagnosis. Oleh karena itu, keputusan untuk menjalani skrining sebaiknya dilakukan melalui konsultasi dengan tenaga medis agar manfaatnya lebih optimal. Dengan pendekatan yang tepat, deteksi dini melalui LDCT dapat menjadi strategi efektif dalam melindungi kesehatan paru dan meningkatkan harapan hidup di masa depan.

Namun, deteksi melalui pencitraan saja sering kali perlu dilengkapi dengan pemeriksaan lanjutan untuk memahami karakteristik kanker secara lebih mendalam. Pemeriksaan molekuler berperan penting dalam mengidentifikasi perubahan genetik yang mendasari kanker paru, sehingga membantu menentukan langkah penanganan yang lebih tepat dan personal.

KALGen Innolab sebagai laboratorium diagnostik berkomitmen mendukung upaya deteksi dan penanganan kanker paru melalui layanan pemeriksaan molekuler yang komprehensif. Dengan dukungan teknologi diagnostik terkini dan tim ahli berpengalaman, KALGen Innolab menyediakan berbagai pemeriksaan genetik yang tidak dapat diperoleh melalui pemeriksaan imaging seperti LDCT.

Melengkapi pemeriksaan dengan tes molekuler di KALGen Innolab dapat menjadi langkah penting dalam memahami kondisi secara lebih menyeluruh dan membantu dokter menentukan strategi terapi yang paling optimal. Deteksi dan evaluasi yang tepat sejak dini dapat meningkatkan peluang penanganan kanker paru secara lebih efektif, karena keputusan yang diambil hari ini berperan besar dalam menjaga kesehatan di masa depan.


Referensi

Cancer Treatment Centers of America. (n.d.). Low-dose CT scan for lung cancer detection. https://www.cancercenter.com/cancer-types/lung-cancer/diagnosis-and-detection/low-dose-ct-scan

Centers for Disease Control and Prevention. (2024, October 15). Screening for lung cancer. https://www.cdc.gov/lu

de Koning, H. J., van der Aalst, C. M., de Jong, P. A., Scholten, E. T., Nackaerts, K., Heuvelmans, M. A., … Oudkerk, M. (2020). Reduced lung-cancer mortality with volume CT screening in a randomized trial. The New England Journal of Medicine, 382(6), 503–513. https://doi.org/10.1056/NEJMoa1911793

Mayo Clinic Staff. (2024, February 7). Lung cancer screening. Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/lung-cancer-screening/about/pac-20385024

Mayo Lung Screening Program. (2025). Risk-based lung cancer screening in clinical practice. Journal of Thoracic Oncology, 20(9), 1257–1267. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0959804925003521ng-cancer/screening/index.html

National Center for Biotechnology Information. (2013). Lung cancer screening with low-dose computed tomography for primary care providers. PubMed Central. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3755805/

National Lung Screening Trial Research Team. (2011). Reduced lung-cancer mortality with low-dose computed tomographic screening. The New England Journal of Medicine, 365(5), 395–409. https://doi.org/10.1056/NEJMoa1102873

U.S. Preventive Services Task Force. (2021). Screening for lung cancer: US Preventive Services Task Force recommendation statement. JAMA, 325(10), 962–970. https://doi.org/10.1001/jama.2021.1117

Baca Juga Yang Lainnya

Skrining Kanker Paru: Siapa yang Perlu Low-Dose CT Scan? (LDCT)
ditinjau oleh dr. Devi Elora - KALGen Academia Team
30 March 2026
Batuk Tak Kunjung Sembuh? Waspadai Gejala Kanker Paru
ditinjau oleh dr. Devi Elora - KALGen Academia Team
18 March 2026
Sering Disalahartikan, Apa Bedanya TBC dan Kanker Paru?
ditinjau oleh dr. Devi Elora - KALGen Academia Team
17 March 2026
Artikel Lainnya
Skrining Kanker Paru: Siapa yang Perlu Low-Dose CT Scan? (LDCT)
skrining-kanker-paru-ldct-siapa-yang-perlu
Batuk Tak Kunjung Sembuh? Waspadai Gejala Kanker Paru
batuk-tak-sembuh-gejala-kanker-paru
Sering Disalahartikan, Apa Bedanya TBC dan Kanker Paru?
perbedaan-tbc-dan-kanker-paru
Kanker Payudara Stadium Awal: Apakah Selalu Perlu Kemoterapi?
kanker-payudara-stadium-awal-perlukah-kemoterapi
LOADING ...